Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada Jumat, 9 Oktober 2026 mengajukan anggaran ekspansif sebesar 459,8 miliar Ringgit Malaysia atau setara Rp 2.014 triliun (asumsi kurs ringgit terhadap rupiah 4.381) untuk 2027. Ia berjanji menerapkan reformasi agar pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan seluruh warga.
"Pertanyaan kami bukan hanya soal seberapa besar ekonomi yang akan dibangun, tetapi apakah pertumbuhannya akan membuka ruang bagi keluarga untuk menabung, bagi pekerja untuk menikmati upah yang lebih layak, bagi usaha kecil untuk terus berkembang,” kata Anwar dalam pidatonya, dikutip dari VnExpress, Sabtu (10/10/2026).
Advertisement
Anwar mengumumkan rencana reformasi pendapatan secara luas, termasuk menaikkan upah minimum menjadi 2.000 Ringgit Malaysia per bulan atau Rp 8,7 juta dari sebelumnya 1.700 Ringgit Malaysia atau Rp 7,4 juta, mulai Juni mendatang.
Keringanan pajak penghasilan individu juga akan naik dari 9.000 Ringgit Malaysia menjadi 12.000 Ringgit Malaysia per tahun, atau Rp 39,4 juta menjadi Rp 52,5 juta, revisi pertama sejak 2010.
Anwar turut mengumumkan tambahan bantuan tunai sebesar 16 miliar Ringgit Malaysia atau Rp 70 triliun bagi warga Malaysia berpenghasilan rendah. Pemerintah juga memperluas dukungan untuk pembeli rumah pertama kali dan pelaku usaha kecil.
Sebelumnya, koalisi pemerintahan Anwar menghadapi serangkaian kemunduran di pemilu daerah. Ketegangan di dalam aliansi pemerintahannya yang terdiri dari banyak partai memicu ekspektasi pemilu nasional dipercepat.
Pertumbuhan Ekonomi 2026 Direvisi Naik
Pemilu nasional berikutnya baru dijadwalkan Februari 2028, tetapi Anwar mengatakan mungkin akan menyerukan pemilu dadakan jika perpecahan internal semakin memburuk. Para analis menyebut anggaran ini sebagai langkah pragmatis menjelang kemungkinan pemilu tersebut.
Sementara, ekonomi Malaysia diperkirakan tumbuh antara 4,2-5,2% pada 2027. Malaysia juga menaikkan proyeksi pertumbuhan 2026-nya untuk kedua kalinya tahun ini, dengan perkiraan mendekati batas atas 4,8-5,3%.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Malaysia tercatat 5,7% pada paruh pertama 2026. Negara ini diuntungkan ledakan kecerdasan buatan (AI), dengan ekspor kotor diperkirakan naik 31% tahun ini berkat permintaan kuat untuk produk teknologi dan semikonduktor.
Advertisement
Petronas Naikkan Kontribusi ke Pemerintah
Rencana belanja Malaysia 2027 naik 3,6% dari anggaran revisi tahun ini sebesar 444,1 miliar Ringgit Malaysia atau Rp 1.945 triliun. Rencana ini mencakup belanja pembangunan 83 miliar Ringgit Malaysia atau Rp 363,5 triliun dan belanja operasional RM 376,8 miliar atau Rp 1.650 triliun.
Pendapatan negara diperkirakan naik 4,7% menjadi 380,8 miliar Ringgit Malaysia atau Rp 1.668 triliun pada 2027, termasuk 32 miliar Ringgit Malaysia atau Rp 140,1 triliun dari perusahaan energi Petronas.
Namun demikian, tagihan subsidi tahunan Malaysia membengkak di tengah kenaikan biaya energi. Kondisi ini mendorong revisi tipis target defisit fiskal 2026 menjadi 3,6% dari produk domestik bruto (PDB), dari sebelumnya 3,5%.
Meski demikian, Anwar meredam kekhawatiran soal pelebaran defisit. Ia menegaskan Malaysia tetap berkomitmen pada sasaran fiskal jangka menengahnya, dengan defisit 2027 diproyeksikan turun menjadi 3,3%.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

