Pada sisi hilirisasi industri misalnya, Vietnam disebut sudah masuk tier 3 atau sektor digitalisasi seperti semikonduktor. Sementara, Indonesia disebut masih di tier 1, yakni sektor bisnis berbasis agro.
"Kesempatan untuk naik dari lima (pertumbuhan ekonomi lima persen), kita rata-rata lima kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai sembilan persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi semikonduktor AI," ungkap Airlangga di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Advertisement
Perbandingan lainnya, Vietnam telah memiliki sekitar 2 juta hektare kawasan ekonomi khusus (KEK), sementara Indonesia baru ada 24 ribu hektare. Regulasi KEK tersebut biasanya yang jadi daya tarik investor.
"Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani dan sebetulnya dari segi kepastian usaha mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor. Jadi kita tentu ada persaingan dengan Vietnam," kata dia.
Pada aspek perdagangan luar negeri, Vietnam disebut lebih dahulu memiliki perjanjian ekonomi komprehensif dengan Eropa dan perjanjian yang menguntungkan dengan Amerika Serikat.
"Jadi inilah yang mendorong Vietnam ekspornya lebih cepat dari kita. Namun mereka tidak punya domestic market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor," ungkap Airlangga.
Panel Surya RI Kena Tarif 104%
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan panel surya yang dibuat Indonesia dikenakan tarif tinggi hingga 104% ke Amerika Serikat (AS). Imbasnya, ekspor panel surya RI ke AS berpotensi semakin sempit.
Airlangga mengatakan saat ini panel surya yang diproduksi di Tanah Air mencapai 11 gigawatt (GW). Tingginya kapasitas produksi ini turut mendorong jumlah panel surya yang diekspor ke AS.
"Ekspor Indonesia naik ke Amerika dalam satu tahun lebih dari 100% tetapi dampaknya juga langsung Indonesia dikenakan biaya masuk untuk solar panel 104% jadi dengan demikian dipastikan kita tidak bisa lagi ekspor solar panel ke Amerika," ungkap Airlangga di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Advertisement
Pasar Dalam Negeri
Pemerintah tak kehabisan ide. Airlangga berharap pada permintaan yang bisa dihasilkan dari pasar domestik. Salah satunya dari megaproyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total 100 GW.
"Bapak Presiden mendorong bahwa ini untuk meningkatkan domestic demand dengan agenda untuk mendorong 100 gigawatt peak daripada solar panel," ucap dia.
Proyek tersebut akan dijalankan dengan memanfaatkan hasil hilirisasi nikel dalam battery energy storage system (BESS). Diketahui Indonesia tengah mengebut hilirisasi nikel menjadi baterai.
"Nah ini diperkirakan dari renewable energy, solar panel, beserta batery storage system yang sangat mendukung ekosistem baterai yang sudah disiapkan oleh Indonesia yang berbasis kepada nikel. Kita tidak bisa hanya membiarkan basis daripada baterai ini kepada pasar karena persaingan kita juga tidak hanya baterai berbasis nikel tetapi baterai berbasis litium," bebernya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
