Kadoya akan delisting atau menghapuskan saham dari bursa saham lewat tender offer yang didukung firma ekuitas swasta Integral, setelah lebih dari dua dekade tercatat di Jasdaq Securities Exchange sejak 2004, seiring naiknya biaya bahan baku dan risiko geopolitik.
"Perusahaan berusia satu abad di Jepang makin khawatir tidak bisa memperkirakan masa depan dengan laba tinggi yang berkelanjutan dalam jangka panjang, dan takut akan perlahan-lahan mengalami kemunduran," kata Kepala Ekonomi Jepang di Oxford Economics, Shigeto Nagai, dikutip dari CNBC, Selasa (6/10/2026).
Advertisement
Bisnis Jepang yang sudah lama berdiri tengah diuji berbagai faktor, mulai dari pasar domestik yang menyusut dan kekurangan tenaga kerja hingga tantangan suksesi, menurut sejumlah pakar.
Kebangkrutan bisnis Jepang dengan sejarah lebih dari 100 tahun mencapai 112 kasus dalam delapan bulan pertama 2026, tertinggi sepanjang catatan menurut Teikoku Databank.
Nagai menyebut, perusahaan berusia satu abad di Jepang sebelumnya mampu mencapai kemakmuran jangka panjang lewat kepemilikan keluarga, akar kuat di komunitas lokal, serta pendekatan bisnis yang tetap sesuai kemampuan. Sejarah panjang dan akumulasi modal bertahun-tahun juga membuat mereka memiliki neraca keuangan yang sehat.
Sementara, kenaikan biaya dan kekurangan tenaga kerja menjadi tantangan utama bagi perusahaan Jepang dalam lingkungan bisnis setelah pandemi, menurut ekonom utama S&P Global Market Intelligence, Harumi Taguchi.
Biaya Naik, Pasar Domestik Menyusut
Taguchi mengatakan, meski inflasi membuat perusahaan lebih mudah meneruskan biaya dibandingkan ketika deflasi, banyak yang masih belum bisa sepenuhnya mencerminkan kenaikan pengeluaran ke dalam harga jual. Kondisi ini sangat sulit diserap perusahaan kecil yang berfokus domestik.
Kebangkrutan terkait kenaikan harga melonjak 23,8% menjadi 556 kasus pada semester pertama 2026. Sementara itu, kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja naik 12,4% menjadi 227 kasus.
Salah satu contohnya Sube Shoten, produsen tahu sejak 1877, yang menghentikan operasinya Mei lalu dan bersiap mengajukan kebangkrutan akibat margin laba rendah dan lonjakan biaya bahan baku.
Tantangan besar lain yang dihadapi perusahaan Jepang adalah persaingan domestik yang makin intens, diperparah angka kelahiran yang menurun dan populasi yang menua.
Advertisement
Masalah Suksesi Jadi Momok Baru
Suksesi kepemimpinan menjadi tantangan lain bagi bisnis keluarga di Jepang. Kebangkrutan terkait minimnya penerus naik 16,9% menjadi 312 kasus pada semester pertama 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kombinasi faktor-faktor itulah, bukan satu isu tunggal, yang membentuk keputusan ini," kata Direktur Pelaksana sekaligus Kepala Praktik Global Transaction Advisory Group di Alvarez & Marsal, Paul Aversano.
Ia menyebut pelemahan yen, reformasi tata kelola korporasi, tekanan dari investor aktivis, serta tantangan suksesi di bisnis milik pendiri, mendorong pemilik dan dewan direksi meninjau ulang opsi mereka. Faktor-faktor ini bersamaan dengan inflasi, tarif, biaya tenaga kerja, dan suku bunga yang terus meningkat.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

