Dikutip dari BBC, Selasa (15/9/2026), organisasi otomotif RAC mengatakan harga rata-rata bensin kini mencapai 169,68 pence atau Rp 40.532 (asumsi kurs poundsterling terhadap rupiah 23.840) per liter, sementara harga solar menjadi 191,68 pence atau Rp 45.777 per liter, setara dengan ketika Rusia menginvasi Ukraina besar-besaran lebih dari empat tahun lalu.
Perang Amerika Serikat-Israel dan Iran telah mengganggu produksi serta transportasi minyak secara signifikan. Meski sempat turun mendekati US$70 atau Rp 1,2 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.680) per barel setelah kedua pihak sepakat mengakhiri perang pada Juni, harga bahan bakar kembali naik hingga menembus US$ 100 atau Rp 1,76 juta per barel seiring ketegangan yang muncul lagi.
Advertisement
Menanggapi harga minyak mentah di pasar grosir tersebut, Kepala Kebijakan RAC Simon Williams mengatakan, belum ada tanda-tanda harga bahan bakar di SPBU akan turun bagi para pengendara.
Minyak mentah sendiri merupakan bahan utama bensin dan solar, sehingga kenaikan harganya membuat para pemilik kendaraan membayar mahal untuk bahan bakar.
Para analis memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 10 atau Rp 176.765 per barel akan mendorong harga bahan bakar naik sekitar 7 pence atau Rp 1.668 per liter.
Perkembangan Harga Bensin dan Solar di Inggris
Sejak perang, harga minyak mentah Brent, patokan global harga minyak grosir, sangat fluktuatif, yang sebelumnya berada di sekitar US$ 70 atau Rp 1,2 juta per barel, setelah perang menjadi lebih dari US$ 120 atau Rp 2,1 juta per barel.
Pada Juli, harga rata-rata bensin berada di 150,59 pence atau Rp 35.994 per liter, sementara solar sebesar 164,52 pence atau Rp 39.331 per liter. Kini, keduanya kembali melonjak, dengan solar yang mendekati rekor tertinggi 199,05 pence atau Rp 47.436 per liter pada Juni 2022 dan bensin yang tipis di bawah rekor musim panas 2022 sebesar 191,5 pence atau Rp 45.767 per liter.
Williams mengatakan biaya pengisian penuh tangki mobil berkapasitas 55 liter kini mencapai lebih dari 93 poundsterling atau Rp 2,2 juta untuk bensin dan lebih dari 105 poundsterling atau Rp 2,5 juta untuk solar.
Perusahaan-perusahaan penjual bahan bakar sempat dituduh menaikkan harga berlebihan selama konflik berlangsung demi keuntungan pribadi, meski Regulator Pasar Resmi Inggris tak menemukan buktinya.
Pemerintah Inggris menyediakan skema “Fuel Finder” agar pengendara dapat membandingkan harga bahan bakar SPBU di seluruh Inggris.
Pada Mei lalu, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mengatakan rencana kenaikan pajak bahan bakar sebesar 5 pence atau Rp 1.192, yang harusnya berlaku pada September akan ditunda hingga akhir Desember akibat konflik.
Advertisement
Mengapa Perang Iran Berdampak Besar pada Harga Minyak?
RAC mengatakan ada alasan yang sangat kuat untuk mempertahankan pajak bahan bakar pada level saat ini, setidaknya hingga masa jabatan parlemen berakhir.
Konflik Timur Tengah membuat harga minyak global melonjak karena menutup Selat Hormuz, salah satu jalur transportasi laut terpenting untuk pengiriman, dengan normalnya 20% minyak dan gas alam cair dunia melewatinya.
Bahkan jika kesepakatan tercapai untuk membuka kembali selat tersebut, para ahli memperingatkan akan butuh waktu lama agar aktivitas pelayaran kembali normal.
Sementara itu, Inggris sangat bergantung pada impor minyak dan gas yang sebagian besarnya dari Amerika Serikat dan Norwegia. Meski Inggris masih memproduksi minyak di Laut Utara, sebagian besarnya justru diekspor untuk diproses kilang-kilang negara lain.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6




