Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnAIWawasanSelengkapnya
Rupiah Tertekan ke 17.547 per Dolar AS, Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah

Rupiah Tertekan ke 17.547 per Dolar AS, Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah

Liputan6Liputan62026/09/10 11:06
Oleh:Liputan6
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi sikap investor yang cenderung menahan diri menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting AS, terutama Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI).

Rupiah ditutup di level 17.547 per dolar AS, turun 36 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di 17.511 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru menguat. JISDOR hari ini berada di level 17.536 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya 17.552 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan investor memilih bersikap wait and see sebelum mengambil posisi baru di pasar valuta asing.

“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung menunggu sebelum mengambil posisi baru. Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat malam,” katanya dikutip dari Antara.

Menurut Amru, kedua data tersebut akan menjadi indikator penting bagi pasar untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati sehingga rupiah mengalami koreksi, meskipun sejumlah sentimen domestik masih tergolong positif.

 

Bagian Konsolidasi

Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (2/11/2020). Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (2/11) sore ditutup melemah 0,1 persen ke level Rp14.640 per dolar AS, dari perdagangan sebelumnya yaitu Rp14.690 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Amru menambahkan, pelemahan rupiah juga merupakan bagian dari konsolidasi setelah mata uang Garuda mencatat penguatan cukup kuat pada perdagangan sebelumnya.

“Meskipun sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah,” ujar Amru.

Selain itu, pergerakan rupiah turut dipengaruhi harga minyak dunia yang masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta prospek suku bunga.

Meski demikian, Amru melihat rupiah masih memiliki peluang untuk menguat dalam jangka pendek.

“Dalam jangka pendek, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan dan diperkirakan bergerak di kisaran 17.450-17.600. Penguatan menuju area 17.450 akan lebih terbuka apabila pelemahan dolar berlanjut, sementara data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat kembali memberikan tekanan terhadap rupiah,” kata dia pula.

Dengan demikian, pasar akan mencermati hasil PPI dan CPI AS sebagai faktor penting yang dapat menentukan arah rupiah dalam perdagangan selanjutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!