Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnAIWawasanSelengkapnya
Ini Penyebab Indonesia Masih Sulit Jadi Negara Maju

Ini Penyebab Indonesia Masih Sulit Jadi Negara Maju

Liputan6Liputan62026/09/09 06:33
Oleh:Liputan6
Deretan rumah semi permanen di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta -
CEO Asian Development Bank Institute (ADBI), Bambang Brodjonegoro, mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi jalan panjang untuk lepas dari kurungan jebakan negara berpendapatan menengah ( middle income trap/MIT) dan menjadi negara maju. Berdasarkan kajian ADBI, skor probabilitas Indonesia saat ini berada di angka 0,44, masih di bawah nilai ambang batas ideal sebesar 0,6.

Pernyataan tersebut disampaikan Bambang dalam konferensi bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Jakarta, Rabu (9/9/2026). Pada kesempatan itu, ia memaparkan hasil riset berbasis machine learning yang membedah berbagai faktor penentu keberhasilan suatu negara untuk melompat menjadi negara berpendapatan tinggi.

Penyusunan riset ini mengomparasikan dua model machine learning, yaitu XGBoost dan Elastic Net. Hasilnya mengidentifikasi tiga pilar utama yang menyumbang lebih dari 73% kekuatan prediktif kemampuan sebuah negara untuk lolos dari jebakan MIT:

  • Transformasi struktural
  • Kualitas institusi
  • Kelayakan politik

Di luar tiga pilar utama tersebut, analisis ADBI turut memperhitungkan indikator pendukung lainnya seperti modal manusia (human capital), inovasi (innovation), kapasitas fiskal (fiscal capacity), hingga kapasitas negara (state capacity).

"Sayangnya bagi Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, serta Kamboja, Myanmar, India, dan negara-negara lainnya, masih menghadapi tantangan karena probabilitas keluar dari middle income trap masih relatif jauh dari ambang batas," kata Bambang dikutip dari Antara.

Bambang membeberkan bahwa angka 0,44 milik Indonesia masih tertinggal dibandingkan skor beberapa negara tetangga di Asia, seperti Thailand yang membukukan skor 0,56 dan Vietnam sebesar 0,50.

"Jadi, saya dapat mengatakan bahwa negara-negara tersebut berada dalam posisi borderline. Ada kemungkinan untuk keluar dari middle income trap, tetapi belum dapat dipastikan," ucapnya.

Kondisi ini bertolak belakang dengan raksasa Asia seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan yang mencatatkan skor sangat tinggi sebelum resmi bertransisi menjadi negara berpendapatan tinggi, masing-masing sebesar 0,97, 0,95, dan 0,91.

Kunci Perbaikan: Perkuat Manufaktur dan Inovasi

Bambang Brodjonegoro (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Guna mengejar ketertinggalan dan mendongkrak nilai tambah domestik, Bambang menyarankan agar Indonesia memfokuskan strategi pada penguatan kapasitas dalam negeri serta peningkatan produktivitas secara signifikan.

Sebab selama ini, pilar pembangunan Indonesia masih terlalu dominan bertumpu pada ketersediaan sumber daya alam semata.

Bambang menilai, pembenahan basis sumber daya tersebut harus didorong melalui pendalaman sektor manufaktur, penguatan rantai pasok dan pemasok lokal, penarikan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) berbasis teknologi tinggi, peningkatan keterampilan SDM dan inovasi, serta partisipasi aktif dalam rantai nilai regional.

Di samping itu, ia menggarisbawahi bahwa konsistensi arah kebijakan menjadi syarat mutlak dalam menopang transformasi struktural Indonesia menuju panggung negara maju.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!