Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan ISEF tahun ini mengusung pendekatan lintas generasi dengan memanfaatkan teknologi digital agar pengembangan ekonomi syariah dapat menjangkau lebih banyak kalangan.
“Yang menarik ketiga adalah multi generational event, karena kita akan menjangkau semua kalangan, termasuk generasi muda, di mana kami mengadakan kompetisi Fitra dan ISEF World di Roblox,” ujar Destry dalam pembukaan ISEF ke-13 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Rabu (14/10/2026).
Advertisement
Destry menilai platform gim dapat menjadi sarana edukasi apabila pengelola memanfaatkannya secara tepat. BI berharap pendekatan digital tersebut dapat memperkenalkan prinsip ekonomi dan keuangan syariah kepada generasi muda melalui media yang dekat dengan keseharian mereka.
“Roblox itu kan permainan gim, tapi dia bisa menjadi educated juga kalau kita bisa memanfaatkannya secara baik,” katanya.
Pemanfaatan Roblox menjadi bagian dari strategi BI untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah melalui sinergi dan transformasi digital. BI juga memperkuat kolaborasi ISEF dengan Trade Expo Indonesia 2026 untuk mempertemukan pelaku usaha, pembeli, dan investor dari dalam maupun luar negeri.
Selain menyasar generasi muda, ISEF menghadirkan program penguatan ekosistem halal, pembiayaan syariah, serta perluasan akses pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). BI berharap rangkaian program tersebut dapat memperluas jangkauan ekonomi syariah dan meningkatkan manfaatnya bagi masyarakat.
Ekonomi Syariah Sumbang 25% PDB
Sebelumnya, ekonomi syariah berkontribusi hampir 25% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia atau setara Rp 1.524 triliun pada kuartal IV 2025. Namun, pangsa pasar pembiayaan perbankan syariah baru mencapai 7,44% pada Agustus 2026, meskipun pertumbuhannya mencapai 11,6% secara tahunan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Wibowo mengatakan, ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju 6% pada 2027 dan 8% dalam jangka menengah.
“Ekonomi syariah itu menjadi salah satu andalan bagi kita untuk mencapai pertumbuhan 6% tahun 2027 dan 8% di jangka menengah, sebagai bagian dari peningkatan daya saing,” ujar Drajad dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Drajad mengatakan aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp 3.131 triliun dengan pangsa 11,36% dari total aset keuangan nasional. Indonesia juga menempati peringkat ketiga dunia berdasarkan nilai aset sukuk.
Meski demikian, Drajad menilai rendahnya inklusi keuangan syariah masih menjadi tantangan pengembangan industri tersebut. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah mencapai 43%, sedangkan tingkat inklusinya baru 13,24%.
Pada Agustus 2026, pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp 758 triliun atau tumbuh 11,6%. Namun, pangsa pasar yang masih 7,44% menunjukkan ruang pengembangan pembiayaan syariah di Indonesia masih terbuka.
Drajad mengatakan pemerintah menyiapkan penguatan industri halal dan UMKM, peningkatan ekspor, perluasan kerja sama internasional, penguatan ekosistem halal, pengembangan keuangan syariah, serta optimalisasi dana sosial syariah untuk memperbesar kontribusi sektor tersebut.
“Pesan dari ekonomi syariah itu salah satunya adalah fair and just trade antar kita semua,” kata Drajad.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement

