Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Drajad Wibowo menyampaikan bahwa Menteri Keuangan Suahasil Nazara telah memperhitungkan secara matang dampak kenaikan harga minyak tersebut terhadap kondisi keuangan negara.
Advertisement
"Sudah dihitung oleh Pak Menkeu, InsyaAllah semuanya masih di dalam koridor untuk fiskal yang aman," ujar Drajad di Djakarta Theater, Senin (12/10/2026).
Selain menjaga stabilitas fiskal, pemerintah tengah menggodok sejumlah paket stimulus ekonomi untuk memperkuat daya beli masyarakat, salah satunya melalui subsidi upah.
"Paket stimulus kan dibahas di Kemenko. Ada juga kenaikan upah itu ya, subsidi upah, banyak paket stimulus lain,” kata Drajad.
Ia menekankan bahwa seluruh rancangan stimulus tersebut telah disimulasikan agar pelaksanaannya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian fiskal. "InsyaAllah sudah dihitung, masih dalam koridor fiskal yang berhati-hati dan aman,” ujarnya.
Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 105 per Barel
Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi serta serangan terhadap dua kapal tanker selama akhir pekan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Mengutip investing,com, Senin (12/10/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia naik 76 sen atau 0,73% menjadi US$ 105,48 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 59 sen atau 0,64% menjadi US$ 92,44 per barel.
Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu terhadap bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya korban luka dalam serangan baru di bandara tersebut pada Minggu.
Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi. Konflik tersebut merupakan dampak meluas dari perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari.
Advertisement
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak Brent
Kekhawatiran pasokan juga meningkat setelah muncul laporan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Otoritas perdagangan maritim Inggris melaporkan sebuah kapal tanker diserang drone di dekat area labuh Sohar, Oman. Kapal lainnya mengalami kerusakan akibat proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent pada Desember menjadi US$ 90 per barel dari perkiraan sebelumnya US$ 85. Meski demikian, analis yang dipimpin Daan Struyven menilai penyesuaian pasokan minyak Timur Tengah pada akhirnya dapat menurunkan harga.
“Kami mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan Timur Tengah yang berkelanjutan pada akhirnya akan menurunkan harga minyak mentah, sementara potensi eskalasi kembali masih menimbulkan risiko kenaikan harga yang signifikan,” tulis para analis.
Mereka memperkirakan premi risiko sedikit di atas US$ 20 per barel.
Goldman Sachs memperkirakan harga WTI rata-rata mencapai US$ 81 per barel pada Desember 2026 dan US$ 73 per barel pada 2027.
Di Teluk Meksiko, Shell, Chevron, dan BP berupaya memulihkan produksi serta menempatkan kembali pekerja di anjungan minyak setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu pagi.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6


