Sementara, inflasi inti diperkirakan lebih rendah dari yang umum, 2,82% YoY dan 0,08% MtM. David mengatakan, kenaikan harga pangan, terutama cabai, menjadi pendorong utama inflasi.
"Inflasi terakselerasi terutama akibat harga pangan dan sebagian besar produk inflasi inti," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (29/9/2026).
Advertisement
Ia menuturkan, harga cabai naik paling tinggi di antara komoditas pangan. Demikian juga harga beras yang naik perlahan.
Kenaikan inflasi inti terjadi pada sebagian besar komponen secara MtM. Namun, koreksi harga emas menahan laju kenaikan tersebut.
Di luar emas, David menyebut pangan sebagai komponen inti dengan kenaikan tertinggi, yang tekanan harganya diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun. "Sayuran juga cenderung meningkat karena kekeringan di berbagai daerah," kata dia.
Pemerintah sudah melakukan intervensi di sejumlah daerah luar Jawa yang harga pangannya naik, terutama cabai. Pergeseran stok ikut berdampak pada harga di pulau tersebut.
"Sudah naik memang di Jawa karena peningkatan harga," ucap David.
Selain pangan, David menilai nilai tukar rupiah dan harga energi menjadi faktor risiko. "Kurs dan kenaikan harga BBM nonsubsidi akan cukup berpengaruh pada kenaikan inflasi ke depan," tuturnya.
Untuk second-round effect dari kenaikan BBM nonsubsidi, sektor transportasi paling cepat terdampak. "Sektor transportasi dan angkutan paling cepat," katanya.
Ia memperkirakan inflasi akhir 2026 berada di kisaran 3,5%, di batas atas sasaran Bank Indonesia. Hal ini mempertimbangkan kenaikan permintaan musiman dan hari besar. "Iya, masih 1,5–3,5%," ujarnya.
BPS Catat Inflasi Agustus 2026 Sebesar 0,21%
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan atau month-to-month (mtm). Harga daging ayam ras menjadi salah satu komoditas utama pendorong inflasi bulanan tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan langsung capaian inflasi bulanan sebesar 0,21% tersebut.
"Pada Agustus 2026 terjadi inflasi sebesar 0,21% secara bulanan (month-to-month), atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026," ungkap Ateng dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, Selasa (1/9/2026).
Sementara itu, secara tahunan atau year-on-year (yoy), Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,19%, dan secara tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat inflasi sebesar 1,86%.
Ateng menjelaskan, kelompok pengeluaran pendorong inflasi bulanan terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 0,57% serta memberikan andil inflasi sebesar 0,17%.
"Adapun komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama daging ayam ras dengan andil inflasi 0,08%," ucapnya.
"Kemudian cabai rawit, ikan segar, dan juga beras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02%, serta kacang panjang, buncis, jagung manis, mentimun, semangka, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret putih mesin (SPM) dengan andil inflasi masing-masing 0,01%," Ateng menambahkan.
Advertisement
Emas Perhiasan juga Sumbang Inflasi
Selain sektor pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03%, dengan inflasi kelompok sebesar 0,37%.
"Inflasi pada kelompok ini terutama disumbang oleh emas perhiasan yang mengalami inflasi sebesar 0,75% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02%," jelas Ateng.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

