Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnAIWawasanSelengkapnya
DMO Minyakita September 2026 Diprediksi Naik, Ekspor Jadi Pemicu

DMO Minyakita September 2026 Diprediksi Naik, Ekspor Jadi Pemicu

Liputan6Liputan62026/09/21 07:45
Oleh:Liputan6
Produk minyak goreng curah kemasan Minyakita.

Liputan6.com, Jakarta -
Kementerian Perdagangan ( Kemendag) memproyeksikan realisasi domestic market obligation ( DMO) Minyakita pada September 2026 meningkat. Proyeksi tersebut sejalan dengan tren ekspor crude palm oil ( CPO) atau minyak sawit mentah yang juga mengalami kenaikan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Bambang Wisnubroto mengatakan realisasi DMO Minyakita hingga September 2026 telah mencapai 106.003 ton.

Menurutnya, angka tersebut masih berpotensi bertambah hingga akhir bulan dan diperkirakan lebih tinggi dibandingkan realisasi pada bulan-bulan sebelumnya.

"Kami prediksi realisasi pada bulan September ini di akhir bulan akan lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya, karena tren ekspor CPO juga meningkat," kata Bambang dikutip dari Antara, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Peningkatan realisasi DMO menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menjaga pasokan Minyakita di dalam negeri di tengah meningkatnya aktivitas ekspor CPO.

Selain memastikan kewajiban pasokan dalam negeri terpenuhi, Kemendag juga memperkuat distribusi Minyakita, terutama ke sejumlah wilayah Indonesia Timur yang masih menghadapi tekanan harga.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan pemerintah menghadapi periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027.

"Ini akan terus kami lakukan, apalagi ini tiga bulan lagi sudah Nataru, tentunya kami akan terus melakukan hal ini agar pada saat Nataru nanti harga Minyakita atau minyak goreng tetap stabil," terangnya.

Stok BUMN Pangan Capai 523.577 Ton

Produk MinyaKita. (Foto: Bapanas)

Tekanan harga Minyakita masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia Timur. Kemendag mencatat beberapa provinsi memiliki harga Minyakita lebih dari 5 persen di atas harga eceran tertinggi (HET).

Wilayah tersebut meliputi Papua Barat Daya, Papua, Maluku, Papua Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kemendag mendorong BUMN pangan, khususnya Perum Bulog dan ID FOOD, agar terus mendistribusikan Minyakita ke pasar rakyat secara berkelanjutan.

Bambang menyebut penguasaan stok Minyakita oleh BUMN pangan saat ini mencapai 523.577 ton atau sekitar 48,55 persen.

Dari jumlah tersebut, Bulog menguasai sekitar 370.854 ton atau 34,38 persen, sedangkan ID FOOD menguasai 152.723 ton.

Sementara itu, persentase distribusi Minyakita Bulog ke pasar telah mencapai 82,26 persen.

Kemendag meminta Bulog, yang memiliki stok lebih besar, terus memobilisasi dan menyalurkan Minyakita ke daerah-daerah di Indonesia Timur yang harga jualnya masih berada di atas HET.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan sekaligus membantu menjaga harga Minyakita tetap stabil menjelang periode Nataru 2026/2027.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!