
Pelemahan Dolar AS Mendukung Harga Emas karena Data Inflasi Memperkuat Ekspektasi Jeda Kebijakan Fed
Harga emas naik pada Jumat lalu (tanggal 14) dan mengakhiri pekan dengan kenaikan. Perhatian pasar tetap tertuju pada data inflasi dan ketenagakerjaan AS terbaru. Kedua data tersebut secara umum sesuai ekspektasi, sementara tanda-tanda mendinginnya pasar tenaga kerja memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) akan mempertahankan suku bunga pada bulan depan. Sementara itu, Indeks Dolar AS juga melemah sehingga emas berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi pembeli luar negeri.

Harga emas spot naik 0,7% menjadi US$4.379,95 per ons setelah sempat menyentuh US$4.449,39 dalam perdagangan intraday—level tertinggi sejak 5 Juni. Futures emas Desember naik 0,4% dan ditutup pada US$4.437,30 per ons. Secara keseluruhan, emas naik 0,9% selama sepekan.
Pullback Dolar Menjadi Support Utama bagi Emas
Penurunan Indeks Dolar AS menjadi salah satu faktor eksternal utama yang mendukung harga emas selama sesi tersebut. Indeks ini turun sekitar 0,3%, mengurangi biaya relatif pembelian emas berdenominasi dolar bagi pemegang mata uang lain dan berpotensi menopang permintaan luar negeri.
Di pasar logam mulia, dolar AS dan harga emas sering bergerak berlawanan arah. Ketika dolar melemah, emas biasanya mendapatkan support yang lebih kuat. Sebaliknya, ketika dolar menguat, emas dapat mengalami tekanan.
Oleh karena itu, trader perlu memantau bukan hanya harga emas, tetapi juga pergerakan Indeks Dolar AS, yield Treasury AS, dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Fed.
Sinyal Inflasi dan Ketenagakerjaan yang Lebih Lemah Meningkatkan Ekspektasi Fed Akan Menahan Suku Bunga
Jumlah pekerja nonpertanian AS pada Juli secara tak terduga menurun, sementara data inflasi yang dirilis selama pekan tersebut secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar. Kedua perkembangan ini mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh Fed dalam waktu dekat.
|
|
|
Sebagian besar analis saat ini memperkirakan Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rentang 3,50% hingga 3,75%. Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga Fed pada September sebesar 33%, turun signifikan dari 55% pada pekan sebelumnya.
Kebijakan suku bunga berdampak besar terhadap emas. Karena emas tidak menghasilkan pendapatan bunga, biaya peluang untuk menyimpannya cenderung meningkat ketika suku bunga diperkirakan naik. Namun, jika suku bunga tetap tidak berubah—atau jika pasar mulai mengantisipasi pemangkasan suku bunga pada masa mendatang—emas dapat menjadi relatif lebih menarik.
Jika Fed menahan diri dari kenaikan suku bunga lanjutan, harga emas masih berpeluang bergerak lebih tinggi.
Risiko Geopolitik dan Kenaikan Harga Minyak Menambah Ketidakpastian Prospek Inflasi
Selain prospek dolar dan suku bunga, pasar juga mencermati risiko pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Laporan terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak kapal diserang, sementara Amerika Serikat menyatakan mungkin akan mempertahankan blokade maritim terhadap Iran tanpa batas waktu. Hal ini mendorong harga minyak naik selama sepekan.
Namun, kenaikan harga minyak bukan sepenuhnya faktor bullish satu arah bagi emas. Dalam jangka pendek, ketegangan geopolitik dan meningkatnya permintaan aset safe haven dapat mendukung emas. Namun, jika harga minyak terus naik dan kembali mendorong inflasi, pasar mungkin menilai ulang kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi—atau bahkan menaikkannya lebih lanjut—yang berpotensi membatasi kenaikan emas.
Kenaikan harga minyak yang berlanjut dapat memperkuat tekanan inflasi dan mendorong bank sentral mengambil sikap kebijakan yang lebih hawkish, yang belum tentu menguntungkan pasar logam.
Prospek Pasar: Dolar, Ekspektasi terhadap Fed, dan Harga Minyak Tetap Menjadi Faktor Utama
Dalam waktu dekat, kemampuan emas untuk melanjutkan kenaikannya akan bergantung pada beberapa faktor utama:
- Apakah Indeks Dolar AS terus melemah: Dolar yang lebih lemah umumnya mendukung emas berdenominasi dolar dan komoditas lainnya.
- Perubahan ekspektasi kebijakan Fed: Data inflasi, ketenagakerjaan, dan penjualan ritel dapat memengaruhi pandangan pasar terhadap arah suku bunga mendatang.
- Pergerakan yield Treasury AS: Yield yang lebih rendah umumnya mengurangi biaya peluang untuk menyimpan emas.
- Harga minyak dan risiko geopolitik: Permintaan aset safe haven dapat mendorong harga emas naik, tetapi harga minyak yang lebih tinggi juga dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi.
- Permintaan emas fisik: Diskon emas di India telah melebar ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan, menunjukkan bahwa sebagian permintaan fisik masih tertekan dan perlu terus dicermati.
Bagi trader CFD, hubungan antara dolar AS, emas, minyak mentah, dan indeks terkait menawarkan beragam perspektif untuk memantau peluang pasar. Baik mengambil pandangan bullish maupun bearish, trader perlu menetapkan rencana trading yang jelas, mengelola leverage dan risiko posisi, serta tetap mewaspadai volatilitas harga di sekitar rilis data ekonomi utama.
Ingin mengikuti pergerakan pasar dan menjelajahi peluang trading pada dolar AS, emas, minyak mentah, dan pasar global lainnya? Lakukan trading CFD di Bitget untuk memantau beragam instrumen dan mengatur posisi secara fleksibel di tengah perubahan kondisi pasar.
- Pullback Dolar Menjadi Support Utama bagi Emas
- Sinyal Inflasi dan Ketenagakerjaan yang Lebih Lemah Meningkatkan Ekspektasi Fed Akan Menahan Suku Bunga
- Risiko Geopolitik dan Kenaikan Harga Minyak Menambah Ketidakpastian Prospek Inflasi
- Prospek Pasar: Dolar, Ekspektasi terhadap Fed, dan Harga Minyak Tetap Menjadi Faktor Utama




